Minggu, 15 Juni 2014

Konsonan ‘V’ Bagi Orang Kaili



What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”
(Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi); william Shakespeare.
Tiap 12 Syawal, diperingati hari wafatnya (HAUL) sang tokoh pendidikan Sulawesi Tengah khususnya, dan Indonesia Timur pada umumnya, beliau adalah Sayed Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua. Pawai ta’aruf merupakan salah satu rangkaian kegiatan, yang diikuti abnaul khairat dari seluruh penjuru negeri.
Pada HAUL 1434 Hijriah, 2013 kali ini, saya tertarik dengan salah satu kendaraan peserta pawai, wakil dari Kecamatan Tawaeli. Karena spanduk yang dipasang pada kendaraan tersebut tertulis, Kecamatan Tavaili.
Kenapa spanduk pada mobil peserta Pawai Ta’aruf menggunakan huruf ‘V’, dan bukan ‘W’.  Tentu saya bertanya, “Apanya yang salah?”.
Kebetulan para penabuh Rebana pada kendaraan tersebut, rata-rata telah berumur diatas 50-an tahun. Untuk memuaskan tanya dalam kepala saya. Saya mendekat ke salah satunya, “Tante, kenapa Tavaili, bukannya Tawaeli?”.
Kata ibu paruh baya itu, semua benar. Tapi jika menggunakan konsonan bahasa Kaili asli, yang benar adalah Tavaili.
Tetapi jika menggunakan konsonan bahasa kekinian, yang orang daerah itu sendiri bingung, sejak kapan dan kenapa sekarang menjadi Tawaeli, kenapa bukannya Tavaili.
Menurut ibu yang heran juga, karena saya menanyakan perbedaan penggunaan kata itu. Dalam istilah bahasa Kaili, Tavaili merupakan gabungan dua kata Tava dan Ili. Tava berarti Daun, sedangkan Ili berarti mengalir.
“Yang torang tahu, Tavaili itu artinya air yang mengalir di daun, macam embun itu. Tapi kalau kamu tanya artinya Tawaeli, te tahu saya apa artinya,” jawabnya sambil nyengir.
***
Berbicara soal penggunaan konsonan ‘V’ untuk menamai desa/kelurahan maupun kecamatan ditanah Kaili,  banyak yang menggunakan konsonan ‘V’, dan secara administratif pemerintahan yang benar huruf ‘W’.
Padahal jika menggunakan ‘V’,  yang jika meminjam istilah anak-anak muda menjadi lebih ‘Kaili banget  gitu lho’. Dan jika menggunakan huruf  ‘W’, orang Kaili sendiri, bahkan kalangan budayawan pun bingung, apa artinya!.
Diantaranya adalah, Vani yang artinya sarang lebah madu menjadi Wani, Tavanjuka yang konon artinya terdiri atas dua kata Tava dan Nusuka, Tava – Daun dan Nusuka adalah jenis daun sayur (Daun Melinjo). Soulove yang terdiri atas Sou – Rumah dan Love – burung elang, Soulove berarti rumah singgah burung elang, sekarang menjadi Solowe.
Ada juga kelurahan Vatusampu, yang berarti batu asah, tak heran karena daerah ini memiliki potensi tambang galian C yang besar, dan saat ini banyak beroperasi perusahaan tambang, dengan pasar ke daerah Kalimantan.
Desa Pelava di Kabupaten Parigi Moutong yang konon berasal dari kata Lava artinya penahan/benteng, kini menjadi Pelawa.
Dalam suatu kesempatan, saya pernah bertemu dan berbincang santai dengan orang asli Pelava, dan dia menyebut dirinya orang Kaili Ta’a. Berdasarkan kisah orang-orang tua sebelum mereka, dinamakannya desanya dengan kata Pelava, tidak lepas dari heroisme warga setempat pada masa lampau, karena mampu menahan gerakan dan serangan bangsa penjajah Belanda.
***
Salah satu aktifis penjaga budaya Kaili yang juga akademisi di Lembah Palu, Ashar Yotomaruangi, tak dapat menyembunyikan kegelisahannya, atas hal kecil tapi cukup menggelitik ini.
Dia tak menampik, bahwa ada persoalan identitas dalam konsonan ‘V’, disana ada nilai, sejarah dan budaya asli Kaili. Dan konon, meski belum ada penelitian ilmiah untuk membuktikannya,  di dunia ini selain orang Kaili, hanya bangsa Perancis yang menggunakan konsonan ‘V’.
“Contoh taveve – navuri – navau – navai (kucing – hitam – bau – basi),” jawab Ashar nyengir.
Tidak jelas kapan konsonan ‘V’ dalam dialek orang Kaili ini menjadi ‘W’ digunakan secara resmi dalam administrastif pemerintahan. Karena sudah terlalu jauh, untuk mengembalikan juga sudah sulit.
***
Namun, tak dapat pula dipungkiri, kadang pergeseran atau perubahan terjadi karena adanya kepentingan, tetapi kadang pula memang disebabkan penilian obyektif terhadap suatu tempat. Seperti; ketika Presiden pertama RI, Ir Soekarno berkunjung ke Lembah Palu, yang langsung mengubah nama bandara waktu itu, dari bandara Tana Masovu menjadi bandara Mutiara. ***