Andirah Blogspot
Selasa, 25 November 2014
kata - kata mutiara dalam bentuk bahasa kaili internasional
ingin lebih tau...........................................(klik aja disini)
Minggu, 15 Juni 2014
Konsonan ‘V’ Bagi Orang Kaili
“What’s in a name? That which we
call a rose by any other name would smell as sweet.”
(Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi); william Shakespeare.
(Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi); william Shakespeare.
Tiap 12 Syawal, diperingati hari
wafatnya (HAUL) sang tokoh pendidikan Sulawesi Tengah khususnya, dan Indonesia
Timur pada umumnya, beliau adalah Sayed Idrus bin Salim Aljufri atau
Guru Tua. Pawai ta’aruf merupakan salah satu rangkaian kegiatan, yang diikuti
abnaul khairat dari seluruh penjuru negeri.
Pada HAUL 1434 Hijriah, 2013 kali
ini, saya tertarik dengan salah satu kendaraan peserta pawai, wakil dari
Kecamatan Tawaeli. Karena spanduk yang dipasang pada kendaraan tersebut
tertulis, Kecamatan Tavaili.
Kenapa spanduk pada mobil peserta
Pawai Ta’aruf menggunakan huruf ‘V’, dan bukan ‘W’. Tentu saya bertanya,
“Apanya yang salah?”.
Kebetulan para penabuh Rebana pada
kendaraan tersebut, rata-rata telah berumur diatas 50-an tahun. Untuk memuaskan
tanya dalam kepala saya. Saya mendekat ke salah satunya, “Tante, kenapa
Tavaili, bukannya Tawaeli?”.
Kata ibu paruh baya itu, semua
benar. Tapi jika menggunakan konsonan bahasa Kaili asli, yang benar adalah
Tavaili.
Tetapi jika menggunakan konsonan
bahasa kekinian, yang orang daerah itu sendiri bingung, sejak kapan dan kenapa
sekarang menjadi Tawaeli, kenapa bukannya Tavaili.
Menurut ibu yang heran juga, karena
saya menanyakan perbedaan penggunaan kata itu. Dalam istilah bahasa Kaili,
Tavaili merupakan gabungan dua kata Tava dan Ili. Tava berarti Daun, sedangkan
Ili berarti mengalir.
“Yang torang tahu, Tavaili
itu artinya air yang mengalir di daun, macam embun itu. Tapi kalau kamu tanya
artinya Tawaeli, te tahu saya apa artinya,” jawabnya sambil nyengir.
***
Berbicara soal penggunaan konsonan
‘V’ untuk menamai desa/kelurahan maupun kecamatan ditanah Kaili, banyak
yang menggunakan konsonan ‘V’, dan secara administratif pemerintahan yang benar
huruf ‘W’.
Padahal jika menggunakan ‘V’,
yang jika meminjam istilah anak-anak muda menjadi lebih ‘Kaili
banget gitu lho’. Dan jika menggunakan huruf ‘W’, orang Kaili
sendiri, bahkan kalangan budayawan pun bingung, apa artinya!.
Diantaranya adalah, Vani yang
artinya sarang lebah madu menjadi Wani, Tavanjuka yang konon artinya terdiri
atas dua kata Tava dan Nusuka, Tava – Daun dan Nusuka adalah jenis daun sayur
(Daun Melinjo). Soulove yang terdiri atas Sou – Rumah dan Love – burung elang,
Soulove berarti rumah singgah burung elang, sekarang menjadi Solowe.
Ada juga kelurahan Vatusampu, yang
berarti batu asah, tak heran karena daerah ini memiliki potensi tambang galian
C yang besar, dan saat ini banyak beroperasi perusahaan tambang, dengan pasar
ke daerah Kalimantan.
Desa Pelava di Kabupaten Parigi
Moutong yang konon berasal dari kata Lava artinya penahan/benteng, kini menjadi
Pelawa.
Dalam suatu kesempatan, saya pernah
bertemu dan berbincang santai dengan orang asli Pelava, dan dia menyebut
dirinya orang Kaili Ta’a. Berdasarkan kisah orang-orang tua sebelum mereka,
dinamakannya desanya dengan kata Pelava, tidak lepas dari heroisme warga
setempat pada masa lampau, karena mampu menahan gerakan dan serangan bangsa
penjajah Belanda.
***
Salah satu aktifis penjaga budaya
Kaili yang juga akademisi di Lembah Palu, Ashar Yotomaruangi, tak dapat
menyembunyikan kegelisahannya, atas hal kecil tapi cukup menggelitik ini.
Dia tak menampik, bahwa ada
persoalan identitas dalam konsonan ‘V’, disana ada nilai, sejarah dan budaya
asli Kaili. Dan konon, meski belum ada penelitian ilmiah untuk
membuktikannya, di dunia ini selain orang Kaili, hanya bangsa Perancis
yang menggunakan konsonan ‘V’.
“Contoh taveve – navuri – navau –
navai (kucing – hitam – bau – basi),” jawab Ashar nyengir.
Tidak jelas kapan konsonan ‘V’ dalam
dialek orang Kaili ini menjadi ‘W’ digunakan secara resmi dalam administrastif
pemerintahan. Karena sudah terlalu jauh, untuk mengembalikan juga sudah sulit.
***
Namun, tak dapat pula dipungkiri,
kadang pergeseran atau perubahan terjadi karena adanya kepentingan, tetapi
kadang pula memang disebabkan penilian obyektif terhadap suatu tempat. Seperti;
ketika Presiden pertama RI, Ir Soekarno berkunjung ke Lembah Palu, yang
langsung mengubah nama bandara waktu itu, dari bandara Tana Masovu menjadi
bandara Mutiara. ***
Langganan:
Postingan (Atom)